Tampilkan postingan dengan label Fiqih. Tampilkan semua postingan

2019-05-18

8 Hal yang Membatalkan Puasa

8 Hal yang Membatalkan Puasa
8 Hal yang Membatalkan Puasa
Umumnya, ketika ditanya hal apa yang membatalkan puasa, yang kita tahu adalah puasa kita makan, minum, atau berhubungan seksual (jima'). Padahal, ada banyak hal yang bisa membatalkan puasa kita. Berikut ini adalah penjelasan singkat berdasarkan pada informasi dari laman nu.or.id.

1. Masuknya 'ain dari lubang-lubang tubuh

Sampainya sesuatu ke dalam lubang tubuh dengan disengaja adalah salah sat hal yang membatalkan puasa. Maksudnya, puasa yang dijalankan seseorang akan batal ketika adanya benda (‘ain) yang masuk dalam salah satu lubang yang berpangkal pada organ bagian dalam yang dalam istilah fiqih biasa disebut dengan jauf, seperti mulut, telinga, hidung. Benda tersebut masuk ke dalam jauf dengan kesengajaan dari diri seseorang.

Lubang (jauf) ini memiliki batas awal yang ketika benda melewati batas tersebut maka puasa menjadi batal, tapi selama belum melewatinya maka puasa tetap sah. Dalam hidung, batas awalnya adalah bagian yang disebut dengan muntaha khaysum (pangkal insang) yang sejajar dengan mata; dalam telinga, yaitu bagian dalam yang sekiranya tidak telihat oleh mata; sedangkan dalam mulut, batas awalnya adalah tenggorokan yang biasa disebut dengan hulqum.

2. Mengobati dengan Cara Memasukkan Benda Pada Tubuh

Pernah tidak anda sakit di bulan Ramadan? Sakit yang cukup parah sampai anda harus berobat ke rumah sakit atau ke puskesmas. Nah, saat anda menjalani pengobatan, bisa jadi anda membatalkan puasa jika anda memasukkan benda atau obat ke dalam tubuh anda melalui lubang-lubang tubuh (khususnya qobul dan dubur). Contoh sederhananya adalah seorang yang mengidap penyakit ambeien seringkali melakukan pengobatan dengan memasukkan obat ke lubang dubur nya. Jika ini dilakukan saat puasa, secara otomatis puasa orang tersebut dianggap batal.

Yang sering jadi masalah adalah bagaimana jika operasi dan perlu disuntik bius? Ini bisa jadi batal atau juga tidak. Disuntik bius bisa jadi tidak batal jika cairan dari suntik tidak sampai ke kepala (masih sadar) ataupun masuk ke perut besar (lambung). Namun, bisa jadi batal jika suntik sampai ke kepala (bius total).

3. Muntah dengan Sengaja

Jika anda muntah dengan cara sengaja seperti mencolok tenggorokan, maka anda dianggap telah batal puasa. Namun, bila anda muntah karena tidak disengaja (ghalabah) seperti karena mabuk kendaraan, puasa anda masih bisa dianggap sah selama tidak ada muntahan yang tertelan kembali dengan sengaja. Bila ada yang tertelan karena tidak sengaja, puasa masih dianggap sah.

4. Melakukan Hubungan Intim (Jima')

Hal ini adalah salah satu dari tiga sebab khusus batalnya puasa yaitu masuknya alat kelamin lelaki ke kemaluan perempuan atau dalam istilah fiqih lebih dikenal dengan istilah jima'. Meskipun melakukannya dengan mahram (suami-istri), hal ini tetap dianggap haram dan justru dianggap dosa besar. Bahkan, orang yang melakukan jima' saat sedang berpuasa, bukan hanya puasanya yang batal tapi juga diwajibkan membaya kafarat sebanyak 2 bulan puasa berturut-turut atau membayar 1 mud (3/4 liter beras) kepada 60 fakir miskin. Hal ini untuk membayar dosa berhubungan intim saat sedang puasa.

5. Keluar Air Mani

Saat anda berhubungan intim (jima') baik sampai atau tidak sampai keluar air mani, puasa anda dianggap batal. Namun, banyak kejadian dimana air mani tetap saja keluar padahal tidak berhubungan seksual. Jadi, jika anda keluar air mani karena bersentuhan kulit (onani), puasa anda batal. Tapi, puasa anda tetap sah jika anda keluar air mani karena mimpi basah (ihtilam) karena hal tersebut bukan atas kehendak anda dan tidak ada sentuhan kulit disitu.

6. Haid atau Nifas

Puasa anda batal jika anda mengalami haid atau nifas pada saat puasa. Selain dihukumi batal puasanya, orang yang mengalami haid atau nifas berkewajiban untuk mengqadha puasanya. Dalam hal ini puasa memiliki konsekuensi yang berbeda dengan shalat dalam hal berkewajiban untuk mengqadha. Sebab dalam shalat orang yang haid atau nifas tidak diwajibkan untuk mengqadha shalat yang ia tinggalkan pada masa haid atau nifas.

7. Gila

Terdengar lucu memang, bagaimana bisa seorang yang sedang berpuasa tiba-tiba gila? Tapi ini bisa saja terjadi. Hukum yang berlaku adalah seperti halnya hukum bagi orang gila yang tidak diwajibkan berpuasa. Jika ada seseorang yang dipertengahan puasa tiba-tiba gila, maka puasanya dianggap batal.

8. Murtad Saat Berpuasa

Murtad adalah keluarnya seseorang dari agama Islam. Misalnya orang yang sedang puasa tiba-tiba mengingkari keesaan Allah subhanahu wata’ala, atau mengingkari hukum syariat yang sudah menjadi konsensus ulama (mujma’ alaih). Di samping batal puasanya, ia juga berkewajiban untuk segera mengucapkan syahadat serta mengqadha puasanya.

Itulah beberapa hal yang bisa membatalkan puasa dan menghanguskan segala pahala kebaikan kita selama puasa di bulan suci Ramadan ini. Semoga ini bisa menjadi pelajaran dan peneguh iman dan takwa bagi kita. Selamat menjalani ibadah puasa.

Allahualambishshawwab.

2019-05-15

Anak Menangis Waktu Sholat, Perlukah Membatalkan Sholat?

Anak Menangis Waktu Sholat, Perlukah Membatalkan Sholat?
Anak Menangis Waktu Sholat, Perlukah Membatalkan Sholat?
Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saat seorang perempuan sudah mempunyai anak, apalagi yang masih bayi, mereka seringkali mempunyai dilema ketika hendak melaksanakan ibadah sholat. Yaitu ketika si buah hati tiba-tiba menangis. Seringkali sholat kita menjadi tidak khusyu' karena kepikiran dengan si kecil. Di kondisi tersebut, apa yang sebaiknya dilakukan?

Dalil yang sering dibawa oleh ulama untuk menjawab pertanyaan semacam ini adalah ayat Al-Qur'an berikut.
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu membatalkan amal-amalmu." (QS. Muhammad: 33)

Ulama berpendapat merujuk pada ayat tersebut bahwa kita tidak boleh dengan sengaja membatalkan amalan-amalan dan ibadah-ibadah secara sengaja tanpa uzur syari. Seorang ibu boleh saja membatalkan sholat jika si anak menangis dalam kondisi si anak sedang dalam bahaya; entah itu karena sakit, terancam oleh makhluk buas, ataupun manusia.

Adapun kondisi kedua dimana anak menangis karena meminta perhatian kepada sang ibu. Jika hal ini terjadi, alangkah lebih baik jika sang ibu tetap melanjutkan sholatnya dengan melakukan gerakan-gerakan ringan untuk menenangkan si bayi seperti menggendong si bayi saat berdiri lalu menaruhnya saat hendak ruku' dan sujud.

Hal ini sesuai dengan hadist berikut ini.
Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu,  beliau menceritakan,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat menjadi imam sambil menggendong Umamah bintu Zainab bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umamah adalah putri Abil Ash bin Rabi’ah. Ketika beliau sujud, beliau letakkan Umamah. Ketika beliau berdiri, beliau gendong Umamah.” (Muttafaq'alaih)

Sering juga terjadi polemik ketika ibu sedang berjamaah dan si kecil tiba-tiba menangis. Dalam kondisi ini si ibu perlu paham apakah tangisan si bayi adalah karena meminta perhatian atau sedang dalam marabahaya. Jika si anak dirasa hanya meminta perhatian, ibu bisa mencoba menggendong sesuai tuntutan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

Namun, jika ternyata itu tidak juga berhasil dan si anak masih saja menangis. Alangkah lebih baiknya ibu membatalkan sholat ibu lalu pergi untuk menenangkan si anak. Hal ini agar tidak mengganggu ke-khusyu-an jamaah yang lain.

Bila sudah tenang dan masih ada waktu untuk kembali berjamaah, silahkan masbuq sholat tersebut. Jika tidak, silahkan laksanakan sholat secara munfarid.

Namun ini juga tidak sepenuhnya tanggung jawab ibu. Ada hal yang perlu seorang imam ketahui ketika berjamaah dan ada seorang anak yang menangis, yaitu dengan mempermudah (tidak dilama-lama dengan bacaan surat yang panjang) agar si ibu bisa segera menenangkan si anak.

Intinya adalah bagaimana caranya membuat anak tidak benci terhadap masjid karena dimarahi di dalamnya.

Allahu alam bishshawwab.

2019-05-09

Tarawih di Masjid atau di Rumah Bagi Wanita, Mana Lebih Utama?

Tarawih di Masjid atau di Rumah Bagi Wanita, Mana Lebih Utama?
Tarawih di Masjid atau di Rumah Bagi Wanita, Mana Lebih Utama?
Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bulan suci Ramadan adalah bulan yang penuh rahmat dan juga ampunan. Selain merupakan bulan besar bagi umat islam, juga merupakan bulan yang membahagiakan bagi semua orang karena disana terdapat waktu-waktu dan ibadah-ibadah yang tidak bisa dilakukan di bulan lainnya. Salah satunya adalah sholat tarawih.

Namun, bagi akhwat fillah terkadang hal ini menjadi masalah. Seringkali seorang akhwat dibuat bingung ketika hendak melakukan sholat tarawih di masjid. Pertanyaan yang sering diajukan adalah: mana yang lebih utama, tarawih di masjid atau di rumah?

Adapun jawaban atas pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut.

Merujuk kepada hadits Ummu Humaid radhiallahu’anha, beliau berkata:
Wahai Rasulullah, saya ingin shalat bersama anda.” Maka Nabi menjawab: “Aku sudah tahu bahwa engkau ingin shalat bersamaku, namun shalatmu di kamar tempatmu tidur lebih baik daripada shalatmu di kamarmu. Shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalatmu di ruang tengah rumahmu. Shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kampungmu. Dan shalatmu di masjid kampungmu, lebih baik daripada shalatmu di masjidku ini. Ummu Humaid lalu meminta untuk dibangunkan tempat shalat di pojok kamarnya yang paling gelap. Dan biasa melakukan shalat di sana hingga berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu hingga beliau wafat)” (HR. Ibnu Hibban).

Ada juga sebuah hadist yang memperkuat hadist diatas, yaitu ketika Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
Shalatnya seorang wanita di kamarnya lebih utama daripada shalatnya di ruang tengah rumahnya. Dan shalatnya seorang wanita di ruangan kecil di dalam kamarnya lebih utama dari shalatnya di kamarnya” (HR. Abu Daud).

Dari dua dalil/ hadist diatas kita bisa tarik kesimpulan bahwa shalat tarawih yang lebih baik bagi perempuan adalah di rumah. Meski begitu, bukan berarti wanita tidak boleh sama sekali melaksanakan sholat tarawih di masjid. Seorang perempuan diperbolehkan untuk sholat di masjid dengan beberapa syarat, yaitu:

  1. Menutup aurat
  2. Telah mendapat izin dari suami/ wali
  3. Tidak memakai wewangian
  4. Tidak melakukan aktivitas yang campur-baur (laki-laki dan perempuan).

Sebaliknya, shalat tarawih justru bisa jadi baik bagi perempuan jika sang perempuan merasa:
  1. Saat sholat tarawih di masjid jadi lebih bersemangat karena berjamaah (baik bersama teman sebaya ataupun bersama keluarga) sedang di rumah kadang malas.
  2. Saat sholat tarawih di masjid lebih khusyu' dan bacaannya lebih panjang sedang di rumah mungkin akan memilih surat-surat yang pendek.
  3. Saat sholat tarawih di masjid lebih baik karena tidak hanya sholat tapi juga mendapatkan ilmu dari assatidz.

Akhirul kalam, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:
Jangan kalian larang para wanita hamba Allah untuk pergi ke masjid Allah” (HR. Bukhari)

Kesimpulannya yang bisa diambil dari penjelasan singkat diatas adalah tidak ada yang salah untuk melaksanakan sholat tarawih di rumah ataupun di masjid meskipun sholat di rumah lebih utama. Semoga ini bisa menjawab rasa pertanyaan akhwat fillah semua.

Allahu'alam bishshawwab.

2019-05-06

Muslimah dan Instagram, Bagaimana Islam Memandangnya?

Muslimah dan Instagram, Bagaimana Islam Memandangnya?
Muslimah dan Instagram, Bagaimana Islam Memandangnya?
Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sebagai seorang wanita muslimah masa kini, kita seringkali dibuat bingung dengan pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan media sosial seperti:

  • Bagaimana pandangan islam tentang perempuan yang aktif di media sosial?
  • Bagaimana sikap perempuan muslim yang menggunakan media sosial?
dan mungkin masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Dalam islam, mengutip dari nu.or.id, jumhur ulama sepakat bahwa menampakkan aurat di dunia maya atau membiarkan aurat anda (wanita) terlihat oleh yang bukan mahram adalah HARAM. Hal ini berdasarkan atas tafsir dari sabda Rasulullah shalallahu 'alahi wasallam, "Allah menakdirkan sebagian dari zina untuk anak Adam di mana ia akan melakukan itu, bukan mustahil. Zina mata adalah melihat." (Muttafaq'alaih)

Namun, ulama tidak sepenuhnya mengharamkan perempuan atas media sosial karena beberapa alasan dan dengan beberapa syarat tertentu. Tak bisa dipungkiri bahwa media sosial adalah salah satu alat bertukar informasi dan berkomunikasi yang paling umum digunakan. Oleh karenanya, banyak ulama berbeda pandangan tentang syarat tersebut.

Jika menilik pada pendapat imam besar dari 4 mazhab, terdapat beberapa pendapat tentang batasan aurat wanita yang boleh tampak di media sosial.
  1. Mazhab Hambali dan Maliki berpendapat bahwa wanita diperkenankan untuk menggunakan media sosial selama hanya menampakkan wajah dan telapak tangan saja. Berdasarkan pendapat tersebut, ulama berpendapat bahwa wanita muslim masih boleh menggunakan media sosial seperti Instagram selama tidak tabarruj, tidak menimbulkan syahwat dan diridhai oleh wali (orang tua/ suami).
  2. Mazhab Hambali dan Syafi'i berpendapat bahwa wanita tidak diperkenankan sama sekali untuk menampakkan diri di hadapan yang bukan mahram tanpa uzur syari seperti proses akad ataupun memimang. Kedua imam tersebut berpendapat bahwa wajah wanita termasuk aurat yang bisa menimbulkan fitnah.
  3. Adapun pendapat jumhur ulama tentang wanita yang menggunakan media sosial seperti Instagram adalah boleh selama hanya menampakkan bagian badan berikut: wajah, telapak tangan, dan telapak kaki.
Dari kumpulan pendapat diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa ulama berbeda pendapat perihal wanita muslim di media sosial baik foto maupun video karena sebagian ulama seperti Madzhab Syafi’i menganggap wajah dan telapak tangan bagian dari aurat perempuan bukan mahram. Namun demikian, mayoritas ulama berpendapat bahwa wajah bukan bagian dari aurat.

Kesimpulan yang bisa diambil adalah tidak apa bagi wanita muslim untuk ikut bermain di media sosial seperti Instagram selama tetap menjaga etika agama islam dan tetap syari. Namun, alangkah lebih baik bila seorang akhwat bisa terlepas dari Instagram dan media sosial lainnya agar bisa terhindar dari kemudharatnya.

Allahu alam bishshawwab.